LUPA HADITS BAWANG, DATANG BENCANA ASAP

Betapa kasihannya negeri ini. Negeri tetangga, khususnya Singapura, protes sangat keras, karena Indonesia dianggap salah total dalam mengatasi permasalahan ini. Pak Jokowi blusukan ke Sumatera, ke Kalimantan dan pulang dari blusukan di Amerika Serikat sana masih harus kembali blusukan ke Sumatera. Entah berapa banyak aparat yang dikerahkan, baik aparat sipil dan aparat militer/polisi. Demikian juga entah berapa duit dikeluarkan dari APBN dan APBD. Terdapat juga armada pesawat dan helikopter beserta perlengkapannya dari berbagai negara lain yang siap membantu. Kapal perang juga disiapkan untuk evakuasi. Belum lagi di kalangan penduduk banyak sekali yang mengalami gangguan kesehatan ISPA yang mengakibatkan lebih dari 10 orang meninggal. Mereka pun kesulitan melakukan berbagai aktivitas seperti bekerja, belajar, dll. Tabung oksigen banyak dicari, dan masker penutup mulut dan hidung telah menjadi barang langka. Matahari seperti tidak pernah bersinar cerah dan suasana seperti gelap, namun suhu udaranya terasa panas membakar. Betapa kasihannya mereka itu, khususnya di Sumatera dan Kalimantan.
Solidaritas berusaha ditunjukan. Ada siswa SD yang menyemangati siswa SD lain di Sumatera dan kalimantan. Ada pengumpulan dana yang nantinya disumbangkan ke sana. Bahkan kalangan politikus DPR di Senayan juga ikut-ikutan berbagi solidaritas. Saat rapat dibagikan masker, lalu pimpinannya menggunakan masker selama rapat, walaupun ada yang menganggap ‘aksi’ solidaritas tersebut tidak pada tempatnya, hanya lelucon politik.Adapun Sebagian umat Islam yang melakukan sholat dan doa istisqo’ minta hujan turun ditempatnya juga menunjukan solidaritas terhadap bencana yang terjadi.
Sejak kurang lebih 3 bulan lampau bencana asap menerpa Indonesia. Bermula dari kebakaran akibat panasnya musim kering dan atau pembakaran yang disengaja untuk membuka lahan atau tidak sengaja misal membuang sisa rokok, ternyata dampaknya di luar dugaan. Apalagi kalau tanahnya adalah tanah yang mampu ‘menyimpan’ bara. Setiap hari asap pekat yang menyelimuti semakin luas dan semakin luas. Ada suatu hari di mana kepekatan asap berkurang, namun yang sering terjadi adalah hampir setiap hari asap begitu pekat menyelimuti. Daerah-daerah lain pun juga terkena asap yang cukup tebal, termasuk negara-negara lain seperti Singapura, Malaysia, Philipina dan Thailand.
Sebenarnya, bencana ini rutin setiap tahun terjadi. Penduduk yang terkena bencana ini baik di Indonesia maupun di negara lain sudah sering mengalaminya. Waktu-waktu kejadiannya juga terprediksi. Konon kabarnya, pelaku-pelaku pembakarannya yaa itu-itu juga. Mirip berbagai daerah yang rutin setiap musim hujan terkena bencana banjir. Namun, sekarang ini bencana asap terasa sangat ‘menggentarkan’. Selain lebih beratnya bencana asap yang terjadi, sebelumnya di Indonesia sudah mengalami berbagai masalah berat seperti krisis dollar, PHK, pedofilia, dll. Jadilah bencana asap ini bencana yang sangat, sangat luar biasa.
Nampaknya, hal yang penting adalah melakukan usaha maksimal memadamkan api yang terus berkobar sampai nanti datang musim hujan yang memiliki peran tersendiri untuk memadamkan api dan menghilangkan asap. Kalau usaha maksimal yang dilakukan sudah mampu memadamkan api dan menghilangkan asap, tentu hal itu pantas untuk disyukuri. Apalagi didukung oleh tambahan finansial yang berasal dari denda terhadap individu dan korporasi pelaku pembakaran lahan, pasti aparat dan masyarakat lebih siap menghadapi bencana ini. Namun bagaimanapun juga, hujan tetap berperan besar untuk menuntaskan permasalahan kebakaran dan asapnya. Hujan datang, kebakaran dan asap hilang.
Hal penting lainnya adalah jaminan bahwa di masa mendatang tidak terjadi pembakaran lahan secara sengaja oleh individu dan korporasi.Kenyataan yang terjadi sejak dulu adalah mempersiapkan lahan dengan cara membakarnya terlebih dahulu. Itu memang cara paling murah dan paling praktis. Apalagi kalau lahannya sangat luas. Tanpa susah payah keluar uang banyak, cukup bayar denda akibat menyebabkan polusi, dan tanpa susah payah mempersiapkan sumber daya manusia dan peralatan, dengan bantuan musim kemarau dan angin kencang, pembakaran itu nantinya menyebabkan lahan sudah siap ditanami.
Jaminan tidak ada pembakaran memaksa terjadinya perubahan peraturan. Kalau selama ini peraturan mengijinkan pembakaran lahan, asal membayar denda berkaitan dengan polusi dan dampak negatif dan kerugian dialami masyarakat akibat pembakaran, sekarang mulai dirancang peraturan yang melarang pembakaran lahan. Intinya, walaupun mereka sanggup membayar dendanya, individu dan korporasi tetap dilarang membakar lahan. Manfaat finansial dari denda yaitu menambah keuangan negara tidak sebanding dengan biaya finansial memadamkan api dan asapnya dan biaya sosial akibat terganggunya kesehatan dan aktivitas masyarakat. Jadi harus ada peraturan yang menjamin tidak ada pembakaran lahan,
Entah kapan peraturan baru ini berlaku, tidak ada yang bisa menduga. Pihak korporasi sendiri nampaknya belum siap sepenuhnya. Kalau tidak boleh membakar lahan, mereka harus memilki cara lain untuk mempersiapkan lahan-lahan luas mereka. Padahal cara lain untuk mempersiapkan lahan tersebut membutuhkan biaya lebih banyak dan tidak praktis dalam pembakaran lahan. Pihak pemerintah sendiri konon juga ada yang masih pikir-pikir, khususnya dari segi hilangnya ‘potensi’ penerimaan anggaran dari denda dan penggunaan anggaran untuk mengatasi bencana asap. Makanya ada kemungkinan peraturan baru diterapkan: pembakaran lahan dibatasi luas dan waktunya sedangkan dendanya dimaksimalkan, namun kenyataannya tetap tidak ditaati korporasi. Atau, entah kapan peraturan baru itu berlaku.
Penerapan peraturan membutuhkan dukungan kuat di tengah masyarakat. Kalau peraturan ada hanya untuk dilanggar tentu tidak ada gunanya peraturan tersebut. Ajaran agama Islam sebenarnya juga merupakan aturan kuat yang dapat mendorong orang untuk ikhlas lillahi ta’ala menjalankannya. Bagaimana ajaran agama Islam untuk mengatasi masalah pembakaran lahan dan asap yang ditimbulkan? Buletin akan menjelaskan.

Barang Milik Umum dan Penggunaannya
Ajaran agama Islam memberi tempat bagi barang milik umum sebagaimana barang milik individu dan milik negara. Ini berbeda dengan pandangan orang-orang yang menyatakan bahwa barang hanya ada barang individu dan barang umum yang dikuasai negara. Jadi dalam pandangan agama Islam, barang dapat dikelompokkan menjadi barang milik individu, barang milik umum dan barang milik negara.
Barang milik umum terdiri atas (1) fasilitas umum yang dibutuhkan masyarakat seperti fasilitas listrik, fasilitas air, fasilitas pendidikan, dll, (2) tambang-tambang besar dan (3) berbagai benda yang tidak dapat dikuasai/dimonopoli individu seperti hutan, sungai, gunung, dll. Barang-barang tersebut menjadi milik bersama seluruh masyarakat. Jalan umum misalnya, bukan milik individu, bukan milik negara, dan bukan milik perusahaan yang didirikan negara, namun jalan umum adalah milik seluruh masyarakat. Contoh lain adalah masjid. Masjid bukan milik individu atau milik negara, namun masjid adalah milik bersama.
Semua orang dapat menggunakan barang milik umum tanpa terdiskriminasikan sebab barang milik umum adalah barang milik bersama. Sebagai contoh, semua orang berhak menggunakan udara. Hak menggunakan tersebut akan hilang, kalau dia menyebabkan orang lain yang juga berhak, ternyata kehilangan haknya atas udara. Kalau ada seseorang membakar sesuatu yang menyebabkan asap yang menganggu orang lain dalam menggunakan udara, seperti terganggu dalam bernafas atau terganggu dalam jarak pandang, maka orang tersebut tidak lagi memiliki hak untuk membakar sesuatu. Contoh lain. semua muslim berhak menggunakan masjid. Hak tersebut akan hilang kalau dia menyebabkan orang lain terdiskriminasikan dan terganggu dari menggunakan masjid.
Di dalam hadits yang berasal dari sahabat Jabir bin Abdullah yang hadits tersebut diriwayatkan Bukhari, disebutkan bahwa Nabi SAW bersabda: “Siapapun yang makan bawang putih atau bawang merah menjauhlah dari kami, atau menjauhlah dari masjid dan diamlah di rumah”. Terdapat juga berbagai hadits lain yang sejenis dengan hadits tersebut. Baik yang diriwayatkan oleh Bukhori, maupun Muslim dan ahli hadits lainnya. Permasalahan umum yang mengemuka dalam hadits ini adalah adanya berbagai bau yang sangat menyengat, termasuk yang berasal dari bawang. Kalau berbagai bau yang menyengat ini berada di ruang publik, tentu sangat mengganggu orang-orang yang berada di ruang publik tersebut. Sebagai contoh, kalau ada bau menyengat di masjid tentu mendiskriminasikan dan mengganggu kekhusyuan jamaah dalam mengerjakan ibadah sholat. Solusinya, orang yang membawa bau menyengat ini tidak berhak di masjid atau ruang publik apapun. Dia harus tinggal di rumah hingga bau menyengat tersebut hilang. Atau, kalau ingin di ruang publik dia harus menghilangkan bau menyengatnya itu.
Sesungguhnya hadits ini menunjukan kepada kita suatu ajaran mulia dalam berinteraksi di ruang publik. Semua orang boleh menggunakan ruang publik asalkan tidak menyebabkan orang lain yang sama-sama berhak atas ruang publik menjadi terganggu dan terdiskriminasi dalam menggunakan ruang publik itu. Barang dan ruang publik benar-benar digunakan oleh seluruh masyarakat sebaik-baiknya.
Sayangnya pengertian barang publik dan hadits ini telah banyak dilupakan. Banyak kita saksikan di tengah masyarakat, adanya orang-orang yang membakar sampah tanpa memperdulikan asapnya yang masuk ke rumah-rumah penduduk, menimbulkan bau tidak sedap, menyebabkan pernafasan tidak lega dan mata pedih. Banyak pula kita saksikan petani-petani membakar sisa panen padahal sawahnya dan pembakarannya itu di dekat jalan raya, sehingga asapnya menghalangi jarak pandang para pengendara kendaraan. Demikian pula kita saksikan banyak pabrik mengeluarkan asap dari cerobong-cerobongnya lalu menimbulkan polusi udara bagi lingkungan sekitarnya. Adapun bencana asap yang sekarang terjadi disebabkan pembakaran lahan untuk mempersiapkan lahan bagi tanaman perkebunan. Semuanya itu dilakukan dengan melupakan bahwa udara adalah barang dan ruang publik yang semua pihak berhak menggunakannya tanpa diskriminasi. Kenyataannya, asap yang ditimbulkan berbagai pembakaran itu telah mendiskriminasikan dan mengganggu orang lain dari ruang publik. Kalau memperhatikan hadits di atas, seharusnya mereka menghentikan aktivitasnya membakar sampah hingga membakar lahan tersebut sehingga tidak mengganggu orang lain. Sayangnya mereka lupa pada hadits tersebut. Lalu datanglah bencana asap.

Penutup
Larangan membakar lahan seharusnya diterapkan. Kenyataannya, asap hasil pembakaran tersebut telah mengganggu aktivitas, menganggu kesehatan dan menyebabkan kematian. Konsep dari ajaran agama Islam tentang barang milik umum dan penggunaannya dan hadits bawang dapat menjadi landasan kuat dalam larangan membakar lahan. Seharusnya negeri ini selalu ingat kepada ajaranNYA. Allah SWT berfirman dalam surat Al Hasyr ayat 19: “Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, maka Allah menjadikan mereka lupa pada diri sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik”. Maha benar Allah dengan seluruh firmanNYA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: