WANITA HARUS MENIKMATI KEBAHAGIAAN

Tidak mudah bagi para wanita sekarang ini untuk mengecap kebahagiaan kehidupan. Memang, banyak ucapan pujian ditujukan kepada wanita, namun itu hanya di mulut saja atau di lembaran kertas para pengarang saja. Kenyataannya para wanita harus menanggung beban dan risiko berat.
Berakhirnya sekulerisme tidak berarti terbukanya pintu kebahagiaan. Sekat dan kapling telah dibuat dan disepakati kedua belah pihak. Lalu kedua belah pihak mengerjakan ‘spesialisasi’nya masing-masing. Tetapi kecurigaan satu dengan yang lain masih besar yang sering berujung pada kebencian, saling menyalahkan dan konflik.
Pihak duniawi mencurigai pihak agama memanfaatkan isu-isu agama untuk membangun sentimen tertentu yang bertentangan dengan logika. Sedangkan pihak agama mencurigai pihak duniawi memanfaatkan logika untuk menentang wahyu. Jadilah, seolah-olah terpisah dan mengurusi kapling masing-masing, namun kenyataannya tidak jarang mereka saling meluncurkan serangan untuk mematikan pihak yang lain.
Para wanita ditarik pada pusaran kecurigaan, kebencian dan konflik tersebut, sekaligus menjadi korbannya. Ditarik dan mendukung salah satu pihak, disalahkan pihak lain. Jadilah wanita ibarat pepatah: “Dua gajah bertarung, pelanduk mati di tengah”. Kalau caranya begini, bagaimana para wanita bisa bahagia?
Bagaimana kalau wanita condong mempertebal keagamaan? Pihak duniawi pasti sewot setengah mati. Teriakan-teriakan bernada menyudutkan dan menyalahkan pihak wanita menggema ke seluruh jagat: “Sok alim loe!”, “Sekarang sombong!” atau “Munafik!”. Bagaimana kalau wanita mengarah mendekati dunia? Kalangan agama pun tidak setuju dan berteriak: “Menyalahi kodrat manusia!” atau “Tidak tahu malu!”.
Dikasih duit yang banyak juga tidak bisa memberikan kebahagiaan hakiki. Permasalahannya hidup wanita di atas pusaran kecurigaan, kebencian dan konflik antara agama dan kehidupan. Kalau salah satu dienyahkan mungkin baru bisa diraih kebahagiaan. Tetapi apa mungkin mengenyahkan salah satu?
Mungkin satu-satunya cara adalah mengatur yang baik keduanya. Ada yang mengibaratkan itu seperti seorang kusir yang mengendalikan 2 ekor kuda. Kadang-kadang kuda hitam dan kuda putih dipacu berbarengan. Kadang-kadang diarahkan belok kiri dan kadang-kadang diarahkan belok kanan. Dengan diatur seperti itu, tujuan pun tercapai dan wanita mencapai kebahagiaannya.
Yaa, inilah yang bisa dilakukan oleh wanita muslimah. Berbekal akidah Islamiyah yang ada pada dirinya, wanita dapat menerima dan mengatur agama dan dunianya sehingga memberikan kebahagiaan. Jangan biarkan kedua-duanya bertabrakan satu dengan lain. Terima, atur sebaik-baiknya dan satukan kedua-duanya. Kebahagiaan pun akan datang.
Kisah-kisah dalam ajaran agama Islam banyak memberikan informasi pentingnya wanita mampu mengatur agama dan dunia. Kegagalan wanita menerima dan mengatur keduanya berarti ‘kiamat’, sedangkan keberhasilan menerima dan mengatur keduanya, berarti bahagia. Apa saja kisah-kisahnya?

Kisah Kegagalan
Wanita tidak seharusnya mengalami permasalahan dunia. Mungkin karena kodrat sebagai keturunannya Siti Hawa, dunia ini menjadi sangat dekat dengan wanita. Di satu sisi, seolah-olah sudah dari ‘sononya’ wanita menjadi pusat perhatian. Di sisi lain, keluarga memberikan perlindungan dan mencukupi kebutuhan-kebutuhannya. Demikian juga suaminya, ketika si wanita sudah menikah. Adapun, ketika dalam keadaan tua, anak-anaknya berbuat baik kepadanya. Dapat diambil kesimpulan bahwa kasih sayang dunia melimpah ruah kepada wanita. Segala puji bagi Allah SWT yang memudahkan para wanita. Hanya kepadaMU kami menyembah dan hanya kepadaMU kami bergantung dan meminta pertolongan serta perlindungan.
Justru permasalahan wanita terjadi ketika gagal menerima kedatangan ajaran agamaNYA. Hal ini sangat disayangkan. Salah satu contohnya adalah Istri Nabi Nuh dan Nabi Luth ‘alaihumassalaam. Kedua wanita ini gagal total menerima kehadiran ajaran agamanya. Nikmat Allah SWT bahwa mereka menjadi istri Nabi, ternyata tidak membuka mata mereka pada kebenaran agama. Mereka bahkan mengkhianati suami-suami mereka dan wahyu-wahyu Allah SWT yang turun kepada suami mereka (Nabi Luth dan Nabi Nuh). Begitu murkanya Allah SWT sehingga keberadaan suami-suami mereka yang merupakan Nabiyullah tidak mampu mencegah kedua wanita tersebut dari murkaNYA dan mereka dijebloskan ke neraka. Allah SWT berfirman dalam surat At-Tahriim ayat 10: “Allah telah membuat perumpamaan bagi orang-orang kafir, istri Nuh dan istri Luth. Keduanya di bawah perlindungan dua hamba kami yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu kedua istri itu berkhianat kepada kedua suaminya. Maka, kedua suaminya itu tidak dapat mencegah kedua istrinya sedikitpun dari (murka) Allah. Dan dikatakan (kepada kedua istri tersebut): Masuklah kamu berdua ke neraka bersama orang-orang yang masuk (neraka)”
Kisah kegagalan juga dialami oleh istri Abu Lahab. Kesaksian orang-orang pada waktu itu menunjukan bahwa Ummu Jamil ternyata tidak ‘jamil’. Ibnu Abbas, Ibnu Jarir, Said, Asmaa’ dan Abu Bakar mengetahui dengan jelas sepak terjang Ummu Jamil yang menolak Islam dan Nabi Muhammad SAW, seperti: perbuatannya yang merasa berkedudukan lebih tinggi dari Nabi Muhammad SAW, merintangi jalan yang dilewati Nabi Muhammad SAW dengan duri-duri, ‘suudzon’ kepada Nabi Muhammad SAW, menentang Nabi Muhammad SAW, dan mau memukul Nabi Muhammad SAW. Risiko berat dari kegagalan menerima ajaran beragama Islam tersebut harus ditanggungnya sendiri. Mendustakan kebenaran akan menjumpai murkaNYA. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Lahab ayat 4 dan 5: “Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar. Di lehernya ada tali yang kuat”.

Kisah Sukses
Ketika wanita mampu menyatukan dunia dengan agama, kebahagiaan akan menghampirinya. Tidak hanya kebahagiaan di dunia, namun juga kebahagiaan akhirat dapat diraih. Di sini yang penting adalah memyatukan keduanya secara proporsional. Contohnya adalah istri Fir’aun. Walaupun berkedudukan sebagai ‘ibu negara’, Asiyah memilih ‘politik’ tidak mendukung suaminya yang menerapkan untuk menyekutui Allah SWT. Pilihan Asiyah bukan sekadar ikut-ikutan dan kepentingan, namun dilandasi ketajaman hati dan kecerdasan akal dalam menyembah hanya kepadaNYA. Risiko dizalimi Fir’aun dan anak buahnya dihadapi dengan tegar dan keyakinan bahwa nanti akan diganti Allah SWT dengan yang terbaik. Asiyah pun berdoa sebagaimana dalam surat at-Tahriim ayat 11: “Dan Allah membuat perumpamaan bagi orang-orang beriman, istri Fir’aun. Ketika dia berkata: Yaa Tuhanku, bangunkan untukku sebuah rumah di sisiMu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Firaun dan perbuatannya. Dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim”. Betapa bahagianya Asiyah yang lepas dari kezaliman Fir’aun dan antek-anteknya. Yaitu ketika melalui kedatangan dan dakwah Nabi Musa AS, Allah SWT menenggelamkan Fir’aun dan antek-anteknya itu di laut disebabkan penolakannya kepada kebenaran. Kelak pun Asiyah akan berbahagia di surgaNYA Allah SWT.
Contoh lainnya adalah seorang ibu bernama Al Khansa yang merestui anak-anaknya untuk menjadi tentara resmi yang maju ke medan pertempuran melawan tentara kafir yang menyerang. Al Khansa mendorong anak-anaknya untuk resmi menjadi tentara Islam yang benar. Siap maju ke medan pertempuran setiap saat dengan semangat jihad fii sabilillah. Tentara resmi memang berperang melawan orang-orang kafir yang menjadi musuh, dengan risiko menghadapi kematian. Tetapi tentara resmi ini tidak perlu khawatir pada kematian sebab Allah SWT akan mengganti dengan surga. Ketika perang telah usai, umat Islam dan Al Khansa menyambut kembalinya tentara resmi ini dengan penuh kegembiraan karena musuh kafir telah diusir dan dikalahkan, lalu negara kembali dalam keadaan damai. Adapun Al Khansa juga tetap mampu merasakan kebahagiaan walaupun anaknya telah gugur di medan perang. Pulang tinggal nama. Negerinya aman dan musuh kafir dapat dikalahkan, dan anaknya menyandang gelar pahlawan perang.
Ada lagi kisah seorang ibu bernama Zainab binti Humaid sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan Bukhori. Zainab ingin dirinya dan anaknya, Abdullah bin Hisyam, termasuk orang-orang yang taat (kepada negara). Dibawalah anaknya yang masih kecil menghadap Nabi SAW untuk membai’at Beliau SAW dan menunjukan ketaatan. Tetapi karena masih anak kecil, bai’at anak tersebut tidak diterima, namun Beliau mendoakan. Pastinya si ibu dan anaknya mendapat pahala yang banyak karena telah menunjukan ketaatan. Dan tentunya juga bahagia karena telah didoakan oleh Nabi SAW. “Abdullah pergi dibawa oleh ibunya, yaitu Zainab binti Humaid, menghadap Rasulullah SAW. Ibunya berkata: “Wahai Rasulullah terimalah bai’atnya. Lalu Nabi SAW menjawab: Dia masih kecil. Beliau mengusap kepala anak kecil tersebut dan mendoakannya”.
Meraih hak-haknya yang sesuai dengan agama Islam juga memberikan kebahagiaan. Salah satunya adalah yang terjadi pada Khaulah binti Tsa’labah yang tidak terima dizhihar oleh suaminya. Dia pun mengadukan kepada Nabi SAW dan minta segera diberikan kepastian hukum tentang masalah ini. Allah SWT menurunkan firmanNYA sebagaimana dalam surat Al Mujadalah ayat 1-2 yang menyatakan bahwa perbuatan/perkataan menzhihar istri adalah perbuatan/perkataan yang tidak benar/mungkar. Istri yaa istri, ibu yaa ibu. Istri karena alasan apapun tidak bisa menjadi ibu sebagaimana tradisi Arab jahiliyah waktu itu. Yang disebut ibu adalah yang melahirkan anak-anaknya. Jadilah Khaulah merasa bahagia sebab ayat telah turun berkaitan dengan permasalahan yang dihadapinya, dan permasalahannya itu dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya.
Konon kabarnya, juga terjadi suatu kisah pada masa Khalifah Umar bin Khaththab. Beliau pada waktu itu akan memutuskan pembatasan nilai mahar supaya jangan terlalu mahal. Beliau khawatir, mahar yang terlalu mahal menyurutkan minat para pemuda untuk menikah. Beberapa dari kalangan wanita menolak dan mengkritisi rencana Umar ini. Mereka beralasan bahwa mahar adalah hak wanita/calon istri yang diberikan oleh Allah SWT. Jadi tidak pada tempatnya kalau khalifah membatasi hak yang bakal diterima wanita padahal hak tersebut telah diberikan Allah SWT. Akhirnya, khalifah Umar membatalkan keputusannya dan membebaskan wanita dalam masalah mahar. Betapa bahagianya para wanita pada zaman tersebut karena berhasil mempertahankan dan meraih hak-haknya.

Kesimpulan
Kalau pada saat ini banyak wanita yang tidak bahagia, pasti penyebabnya adalah antara agama dan dunia bertabrakan, tidak sinkron dan tidak harmonis. Kalau kaum wanita dapat mengharmoniskan keduanya, yaitu menyatukan dunia dengan agama, insyaAllah wanita memperoleh kebahagiaan. Tidak hanya kebahagiaan dunia, namun juga kebahagiaan akhirat. Hal itu telah banyak dikabarkan dalam berbagai kisah. Wallahu’alamu bishawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: