SIAPAKAH HAMBA ALLAH ITU ?

Seseorang yang tidak ingin diketahui identitas dan jati dirinya telah menjadi donatur bagi Kusniawati. Seseorang ini menyerahkan uang kepada kasir RS Kustati Solo sebanyak Rp 30 juta dan diamanatkan untuk menutup biaya yang harus ditanggung Kusniawati. Ketika ditanya siapa namanya, seseorang ini hanya menyebut dirinya hamba Allah. (Jateng Online Sabtu 23 Januari 2016).
Jadilah Kusniawati sebuah ‘kisah nyata’ yang berakhir pada happy ending/akhir yang baik/khusnul khatimah (secara bahasa). Berawal dari kejadian yang tidak mengenakan: Bagian dari keluarga miskin di Cirebon, suaminya ‘petani gurem’, mengalami kecelakaan dan patah kaki, RS Cirebon tidak mampu menangani, dirujuk ke RS Kustati, salah ‘skim’ pembiayaan, pelaku penabrakan ternyata hanya mampu membiayai sebagian, minta bantuan sana-sini secara langsung atau tidak langsung belum mencukupi, dan akhirnya hanya bisa pasrah menunggu di suatu ruangan khusus. Datanglah kejutan itu. Tiba-tiba seluruh biaya sudah ada yang melunasi. Dia pun dan ibunya hanya bisa terkejut, menangis dan sujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Apalagi ternyata ada kelebihan sebanyak Rp 11 juta dari sisa pembayaran, tali asih dari RS dan berbagai donasi lainnya.
Moga-moga kisah happy ending banyak terjadi di seluruh dunia. Sehingga banyak orang yang mengalami kemalangan kembali memiliki semangat hidup untuk sujud dan penuh rasa syukur kepada Tuhan. Demikian juga moga-moga para hamba Allah benar-benar diliputi keikhlasan terus menerus sehingga Tuhan berkenan menerima amalnya dan mengganti pengorbanannya dengan yang lebih banyak dan lebih baik. Mereka pun moga-moga juga diliputi semangat hidup untuk sujud dan syukur kepada Tuhan. Aamiin 3x.
Berbuat sesuatu yang bermanfaat khususnya untuk orang lain memang sudah menjadi ciri khas manusia yang kenyataannya merupakan makhluk yang peduli. Baik itu di Indonesia atau di luar Indonesia banyak terjadi manusia yang mengedepankan esensi sebagai makhluk yang peduli. Di sebuah kota, ada sekeluarga yang menyediakan waktu sore hari bagi anak-anak di lingkungan mereka untuk belajar mengaji. Di seberang pulau juga ada kabar keluarga yang menyediakan waktu untuk anak-anak memperdalam pelajaran sekolah. Adapun di Medan, konon kabarnya ada abang becak yang walaupun miskin, setiap Jumat menggratiskan penumpangnya, sebagai salah satu cara bersedekah. Presiden Joko Widodo juga punya kebiasaan unik, yaitu membagi-bagikan buku tulis kepada anak-anak sebagaimana dilakukan pada hari Jumat lalu (22 Januari 2016) di masjid dekat rumahnya sehabis shalat Jumat. Pendek kata, banyak di antara manusia yang peduli dan peduli, entah peduli kesehatan, peduli pendidikan, peduli kemiskinan, peduli agama, dll kepada sesama.
Di luar negeri juga acap kali ada berita kepedulian. Harian Merdeka pernah memberitakan kepedulian seorang penata rambut di Amerika dan pasangannya. Setiap akhir pekan si penata rambut mendatangi para gelandangan dan menawarkan jasa cukur rambut gratis. Adapun kalau dia bersama pasangannya, pasangannya akan menyediakan roti supaya para gelandangan tidak makan sisa makanan orang lain. Di situ juga diceritakan kisah He Qin-Jiau yang selama 3 tahun konsisten mengendong temannya yang lumpuh pulang-pergi sekolah, Don Rithcie yang sengaja tinggal di dekat sebuah jembatan di Australia yang biasa dipakai bunuh diri sehingga bisa menasihati orang-orang yang mau bunuh diri, dll kisah.
Dari Timur Tengah ada juga kabar tentang orang-orang yang peduli seperti saat bulan puasa mengirim kurma dalam jumlah banyak ke Indonesia dan negara-negara lain atau membantu pembangunan berbagai masjid. Demikian juga dari belahan dunia lain seperti Eropa, Asia Selatan, Amerika Tengah, Amerika Latin dan Afrika kisah kepedulian banyak terdengar.
Salah satu yang menarik dari kepedulian umat Islam adalah penyembunyian identitas asli dan menggantinya dengan identitas umum hamba Allah. Memang bukan suatu keharusan untuk menyembunyikan identitas ketika melakukan suatu kepedulian. Bahkan kalau yang dilakukan adalah menunaikan zakat harus ada kejelasan identitas, tidak boleh disembunyikan identitasnya sehingga ada kejelasan bahwa muzakki tersebut sudah menunaikan kewajiban zakat dan tidak mengalami penagihan zakat dua kali atau berkali-kali. Namun, kenyataannya kalau untuk aktivitas kepedulian banyak di antara umat Islam memilih menyembunyikan identitasnya dan menggunakan identitas umum hamba Allah.
Hal ini tentu berbeda dengan kepedulian yang dilakukan oleh umat lain. Mungkin ada orang yang menyembunyikan identitas ketika melakukan kepedulian. Ada juga kemungkinan bahwa kepedulian dilakukan dengan tidak memperhatikan keikhlasan, menunjukan sejelas mungkin identitas sebab kepedulian dilakukan sebagai bentuk pencitraan diri, sombong atau bahkan ada maksud ‘udang di balik batu’. Bahkan inilah yang banyak menjadi logika dan trend.
Bagi pihak penerima kepedulian, tentunya tidak mempermasalahkan kepedulian yang seolah-olah palsu ini. Namun bagi yang melakukan kepedulian mungkin akan ada perasaan kurang nyaman kalau pada dirinya terjadi suatu pembelokan. Rasanya menjadi kurang mulia kalau maksudnya adalah kepedulian, namun yang terjadi dia disanjung-sanjung yang bisa menyebabkannya sombong, riya, takabur, dll.
Yang perlu dipahami, penggunaan identitas hamba Allah dalam kepedulian bukan sekadar penyembunyian identitas. Hamba Allah bahkan digunakan dalam pengertian luas. Misalnya saja ada umat Islam yang mengkritik sesuatu hal dengan mengatasnamakan dirinya sebagai hamba Allah. Lalu apa sebenarnya yang dimaksud dengan hamba Allah?

1. Pengakuan kepada Tuhan Sang Maha Pencipta
Hal yang pasti dari menyebut dirinya sebagai hamba Allah adalah pengakuan tentang keberadaan Tuhan sebagai Sang Maha Pencipta. Pengakuan tersebut mungkin saja didapatkannya dari membaca dan memahami Al Quran. Atau, pengakuan tersebut mungkin saja datang dari pecermatannya yang mendalam akan alam semesta, manusia dan kehidupan. Yang jelas di dalam dirinya ada keyakinan bahwa Tuhan adalah Dzat Sang Maha Pencipta. Selanjutnya, konsekuensi dari pengakuan bahwa Tuhan adalah Sang Maha Pencipta adalah pengakuan bahwa dirinya makhluk atau hamba. Di situlah muncul identitas umum dirinya sebagai seorang muslim. Yaitu dia sesungguhnya adalah hamba Allah.

2. Hanya menyembah kepada Tuhan
Penyebutan diri sebagai hamba Allah juga bermakna beribadah kepada Tuhan. Seorang yang mengakui sebagai hamba Allah tentu melakukan ibadah sholat, puasa, zakat dan haji sesuai kemampuannya. Ibadah-ibadah yang lainnya juga akan dilakukan. Intinya semua yang diperintahkanNYA dikerjakan sedangkan yang dilarangNYA ditinggalkan. Itu semua dilakukan sebagai pancaran keyakinannya kepada Tuhan Sang Maha Pencipta.
Hamba Allah bekerja sebagai pancaran keyakinan kepada Tuhan, hamba Allah berkeluarga sebagai pancaran keyakinan kepada Tuhan, hamba Allah berpolitik sebagai pancaran keyakinan kepada Tuhan atau hamba Allah berperang sebagai pancaran keyakinan kepada Tuhan. Itulah Hamba Allah. Semua aktivitas adalah pancaran keyakinan kepada Tuhan.
Dalam hal ini wajar saja kalau sesuai kemampuannya seorang hamba Allah peduli dan menolong orang lain, bukan hanya karena kasihan kepada orang lain, namun karena terpancar dari keyakinan untuk mengikuti perintahNYA seperti dalam Al Quran surat Al Maidah ayat 2 “Saling tolong menolonglah kalian dalam kebaikan dan ketakwaan…” dan hadits Nabi SAW yang dikeluarkan Imam Muslim: “Tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah. Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu. Dan sebaik-sebaik sedekah adalah yang dikeluarkan dari orang yang tidak membutuhkannya. Barangsiapa menjaga kehormatan dirinya maka Allâh akan menjaganya dan barangsiapa yang merasa cukup maka Allâh akan memberikan kecukupan kepadanya”. Wajar pula jika si hamba Allah menyembunyikan identitasnya ketika bersedekah sebab bermaksud memancarkan keyakinan dengan mengerjakan perintahNYA yang terdapat pada hadits Nabi SAW sebagaimana yang dikeluarkan Imam Bukhori: Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapat naungan Allah SWT pada hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: Pemimpin yang adil, Pemuda yang menyibukkan dirinya dengan ibadah kepada Allah, Orang yang hatinya selalu terikat pada masjid, Dua orang yang saling mencintai kerana Allah, berkumpul dan berpisah kerana Allah, Pria yang diajak berzina oleh wanita yang kaya dan cantik tapi ia menolaknya sambil berkata ‘Aku takut kepada Allah’, Seseorang yang bersedekah dengan menyembuyikannya hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfaqkan oleh tangan kanannya, dan Seorang yang berzikir kepada Allah di kala sendiri hingga meleleh air matanya basah kerana menangis. Dalam hal ini peduli dan menolong tidak hanya dengan uang, namun juga bisa dengan ilmu, tenaga, kemampuan dll.

3. Tidak mau kehilangan pahala dan ridlo Tuhan
Sisi lain hamba Allah adalah ketakutannya kalau kehilangan pahala dan Ridlo Tuhan. Posisinya adalah sebagai hamba yang lemah dan hina. Tidak terbayangkan pada dirinya kalau-kalau penghambaannya kepada Tuhan tidak diterima. Bagi hamba Allah hal seperti itu adalah suatu aib dan nista yang besar.
Hamba Allah pasti akan terketuk hatinya apabila memperhatikan hadits Nabi SAW berikut ini. “Pasti aku akan melihat beberapa kaum dari umatku datang pada hari kiamat dengan kebaikan bak gunung-gunung tihamah putih. Kemudian Allah Azza wa Jalla menjadikannya sebagai debu yang beterbangan”. Seseorang bertanya: “Wahai Rasulullah, jelaskan sifat mereka kepada kami, agar kami tidak menjadi bagian dari mereka sementara kami tidak tahu,” Nabi SAW menjawab: “Ketahuilah, mereka adalah saudara kalian, satu bangsa, dan bangun malam sebagaimana kalian. Tapi jika mereka menyendiri dengan larangan-larangan Allah, mereka melanggarnya”. Jadi seorang hamba Allah pasti berusaha keras supaya tidak melanggar hukum-hukumNYA sebab kalau dia melakukan seperti itu dapat memupus kepedulian yang dilakukannya. Kepedulian itu menjadi sia-sia. Demikian juga hamba Allah takut sekali kalau hatinya tidak ikhlas dan riya’ atau yang sejenisnya dalam melakukan kepedulian. Hadits Nabi SAW menyebutkan: Sesungguhnya yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil, yaitu riya’. Allah akan mengatakan kepada mereka pada hari kiamat ketika membalas berbagai amal manusia “Pergilah kepada orang-orang yang kalian berbuat riya’ di dunia. Apakah kalian akan mendapat balasan dari sisi mereka?”. Menjadi hamba Allah memang mulia. Semoga umat Islam termasuk di dalamnya. Semoga umat Islam mendapat pahala dan ridloNYA melalui berbagai pintu hamba Allah dan kemuliaan yang disediakanNYA.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: