MENJAGA KEBERSIHAN RUMAH

Begitu masuk ke suatu rumah, di dinding terdapat fotonya ketika bersalaman atau bersama dengan kepala negara atau pejabat. Ada juga rumah-rumah yang di sana terpampang foto-foto ketika di berbagai daerah di dalam negeri atau luar negeri. Yang lainnya lagi karena kebanggaan dengan suatu institusi, terpampanglah foto dirinya, orang tuanya, anaknya atau menantunya menggunakan seragam tertentu. Atau karena memiliki prestasi sekolah, kuliah, olah raga atau seni di sana pun tidak jarang fotonya dipampang di dinding.
Bagaimana kalau dia perlu menunjukan sebagai penganut suatu agama? Mudah diduga dia pasti memajang simbol-simbol agama di dinding rumah dan di tempat-tempat lain. Kalau dia muslim di situ mungkin (dan tidak harus) terpajang kata Allah SWT dan Nabi Muhammad SAW. Atau mungkin juga kaligrafi Al Quran, hadits atau kalimat mengandung hikmah. Atau lukisan Ka’bah di baitullah masjidil haram. Demikian semua menjadi penghias di dalam rumah saat ini.
Itulah yang sekarang ini sering kita lihat ketika masuk ke suatu rumah. Bukan hanya foto, namun juga berbagai benda menjadi penghias rumah. Tidak heran kalau seseorang yang menyukai motor atau mobil kuno menjadikan koleksi motor atau mobil kuno sebagai penghias rumah. Seorang yang menyukai dunia pedesaan membuat berbagai hal pada rumahnya yang menyerupai rumah desa. Tidak heran pula kalau orang yang menyukai binatang piaraan mengkoleksi binatang piaraan seperti ikan, kucing, ayam, burung dll. Memang ada juga yang dapat digolongkan sebagai keterlaluan dilihat dari berbagai alasan dengan memelihara anjing, ular, buaya, harimau, dll. Ini memang juga sudah ada aturan tentang satwa yang dilindungi.
Bahkan hal-hal dalam rumah yang penting seperti kamar, halaman, pagar, dapur, kamar mandi, atap, lantai, cat, meja, kursi, televisi, komputer, cermin dll diadakan bukan hanya sekadar diadakan, namun diadakan sesuai keinginan dan selera yang punya rumah. Kita pun tidak heran kalau suatu rumah dilengkapi dengan home theatre, taman, gazebo, musola, kolam ikan atau kolam renang. Pendek kata sesuai kemampuan dan keadaan masing-masing setiap orang berusaha mewujudkan rumahnya.
Terhadap keheranan (karena ada yang dipandang berlebihan) itu, dia pun akan menjawab “Apa yang salah?”, “mana salahnya?”, “Orang kan tidak tahu masalahku dan maksudku” atau, “Itu uang-uangku sendiri, tidak nyuri dan tidak korup. Toh aku tidak bermaksud sombong dan jelek”. “Ini juga termasuk menghormati para tamu yang sering datang ke rumah”. Masih banyak alasan-alasan lain yang memang semuanya terkait dengan orang-orang bertempat tinggal pada masa sekarang ini.
Namun, komentar orang-orang pun bisa beragam. Ada yang menyatakan bahwa hal itu mengarah kepada sombong. Komentar lain lagi menyatakan kalau duitnya yang banyak untuk hiasan-hiasan itu lebih baik diberikan kepada yang membutuhkan. Ada juga yang biasa-biasa saja sebab setiap orang berbeda-beda. Ada juga yang berimbas pada dirinya. Kalau rumah itu seperti itu, bagaimana rumahku biar juga kelihatan bagus, tidak kalah dengan rumah-rumah lain dan tetangga-tetangga.
Di sinilah kemudian orang memerlukan suatu ‘pedoman’ yang kuat untuk rumah yang akan dijadikan tempat tinggalnya. Kalau ‘pedoman’ itu sesuai dengan ajaran agama Islam, tentu rumahnya tidak sekadar menjadi tempat tinggal, tapi juga mendapat ridlo dari Allah SWT, sehingga berbagai bahaya dan hal-hal yang tidak diinginkan dapat terhindarkan dan berbagai kemudahan akan berdatangan. Bagaimana pedoman tersebut?
Sudah banyak ‘pedoman-pedoman’ seperti itu di tengah masyarakat. Di koran-koran, majalah-majalah, selebaran-selebaran. Bahkan sekarang dengan adanya internet orang-orang mudah mengakses ‘pedoman-pedoman’ itu secara online. Tinggal baca selengkap-lengkapnya InsyaAllah diperoleh ‘pedoman’ diinginkan, lalu dilaksanakan. Jadilah rumah kita InsyaAllah menjadi rumah idaman yang Islami.

1. Prinsip Sesuai Kemampuan
Allah SWT berfirman dalam surat An-Nahl ayat 80: “Dan Allah menjadikan rumah-rumah bagimu sebagai tempat tinggal dan Dia menjadikan bagimu rumah-rumah dari kulit hewan ternak yang kamu merasa ringan (membawanya) pada waktu kamu bepergian dan pada waktu kamu bermukim dan dari bulu domba, bulu unta dan bulu kambing, (dijadikan-Nya pula) alat-alat rumah tangga dan kesenangan sampai waktu (tertentu).” Salah satu pengertian ayat ini adalah rumah merupakan kebutuhan manusia supaya dapat berdiam di suatu tempat baik secara permanen maupun sementara. Oleh karena itu, Allah SWT memberikan bahan-bahan supaya manusia dapat mengadakan rumah. Kalaupun rumah yang mau dibuat itu yang paling sederhana sekalipun, yaitu tenda yang bukan rumah permanen, bahannya pun sudah disediakan oleh Allah SWT yaitu dari kulit binatang. Perabotan rumah dan perhiasan pun bahan-bahannya disediakan oleh Allah SWT seperti bulu domba, unta atau kambing. Dengan demikian jelas sekali bahwa manusia diharapkan memiliki tempat tinggal dan perabotan serta perhiasannya, lalu beriman kepadaNya sebab Dia-lah yang menyediakan bahan-bahan itu dan menyebabkan manusia dapat mendirikan rumah tempat tinggal.
Pengadaan rumah tempat tinggal dan isinya berupa perabotan dan perhiasan diadakan sesuai kemampuan masing-masing. Hal itu tersirat di dalam surat At-Thalaq ayat 6: “Tempatkanlah mereka (para isteri yang akan kamu cerai) di mana kamu bertempat tinggal sesuai yang kamu sanggup mewujudkannya”. Ayat ini memang terkait dengan suami yang tidak boleh semena-mena terhadap istri yang akan dicerai. Dalam hal ini suami masih harus bertanggung jawab terhadap tempat tinggal istrinya itu, istrinya tetap tinggal bersamanya dan si suami tidak boleh berlaku kasar terhadapnya. Namun, ayat ini dapat pula bermakna tidak terkait dengan perceraian. Suami harus bertanggung jawab terhadap istri dan keluarganya, di mana suami menempatkan istri dan keluarganya di tempat sesuai kemampuannya. Kalau dikaitkan dengan keadaan sekarang, ayat itu bermakna suami boleh menempatkan dirinya dan istri serta keluarganya di rumah yang besar, di KPR-an, kontrakan, rumah sewa kecil atau rumah di desanya sementara dia mencari kehidupan di kota. Yang penting ada rumah sebagai tempat tinggal walaupun sesederhana apapun untuk istri dan keluarganya. Hal itu juga sesuai dengan firmanNya dalam surat Al Baqarah ayat 286: “Allah tidak membebani melainkan sesuai dengan kemampuan”.
Kalau Allah SWT memberikan rejeki lebih sedangkan berbagai kebutuhan pokok istri dan keluarga sudah terpenuhi silahkan saja dibuat rumah lebih aman, terang, luas, kuat, kokoh, tahan jangka panjang, sejuk, teduh, indah luarnya, dan indah dalamnya rumah. Harapannya penghuni rumah merasa nyaman dan tenang di rumahnya. Bersyukur kepada Allah SWT menjadi lebih mudah dan lebih sering. Namun, kalau tidak mampu jangan memaksakan diri, misal jangan memaksakan diri karena terpengaruh tetangga kanan-kiri atau terpengaruh promosi yang tidak dibutuhkan, apalagi sampai melanggar syariatNya, sehingga menjadi sulit bersyukur kepadaNya. Sebab pada prinsipnya itu semua sesuai kemampuan masing-masing.
Bagaimana kalau ada yang ingin memiliki rumah kecil dan sederhana dengan alasan mengikuti Rasulullah SAW? Sebagaimana diketahui rumah Beliau untuk tinggal bersama dengan istrinya Aisyah sangat kecil, kurang dari 15 m2 dan sangat sederhana dilihat dari bahan bangunannya dan interior dalamnya. Disebelahnya ada rumah istri-istri yang lain seperti Hafsah, Ummu Salamah, dll. Bahkan rumah Beliau tinggal bersama Aisyah ini lebih kecil dari rumah Beliau di Mekkah bersama istri Beliau Khadijah. Mengikuti Beliau dalam masalah rumah boleh-boleh saja. Asalkan syariatNya terpenuhi. Karena memang pada dasarnya semuanya itu sesuai dengan kemampuan.

2. Prinsip Terbuka pada Kebenaran
Rasulullah SAW bersabda: “Sungguh perkara (kebenaran) ini akan sampai ke penjuru dunia seperti sampainya malam dan siang. Allah tak membiarkan satu rumah pun baik di kota maupun di desa kecuali Allah memasukkan agama ini dengan kemuliaan yang dimuliakan atau kehinaan yang dihinakan; kemuliaan yang dengannya Allah memuliakan Islam dan kehinaan yang dengannya Allah menghinakan kekufuran. (HR Ahmad). Hadits ini menunjukan bahwa agama Islam akan sampai ke seluruh penjuru dunia Di situ juga disebutkan bahwa agama Islam akan menang dan mulia, sedang orang yang menolak akan kalah dan terhinakan.
Salah satu hal yang menarik dari hadits tersebut adalah agama Islam akan sampai ke rumah-rumah baik itu rumah di kota atau rumah di desa/pelosok. Dari sini dapat diambil suatu kesimpulan bahwa prinsip rumah adalah terbuka pada kebenaran. Entah rumah mewah, rumah sederhana, rumah di kota atau rumah di desa semuanya harus terbuka pada kebenaran. Istilahnya adalah Welcome Kebenaran.
Kalau ada larangan dari ajaran agaama Islam tentang di dalam atau di luar rumah sebaiknya diperhatikan. Sekali lagi hal itu karena prinsipnya adalah rumah terbuka pada kebenaran. Misal larangan adanya patung dan lukisan makhluk bernyawa yang mustinya dijauhi. Demikian juga kalau ada larangan bermegah-megahan dalam membangun rumah, yaa dijauhi bermegah-megahan tersebut. Adapun anjing ditempatkan saja ditempat yang nanti bisa digunakan untuk berburu. Namun kalau pekerjaannya bukan pemburu sebaiknya tidak perlu memelihara anjing.
Bagaimana dengan pagar rumah? Yaa kalau bisa di buat pagar tinggi atau pagar rendah tetapi tertutup, tentu baik. Sebab pagar itu bisa menghalangi orang luar dari melihat-lihat keadaan dan melihat aurat penghuni rumah. Namun, yang penting sebenarnya masyarakatnya supaya tidak membiasakan diri melihat-lihat rumah orang lain, dan penghuni rumah tidak membiasakan membuka aurat di tempat yang dapat dipandang masyarakat umum.
Bel rumah boleh disediakan, apalagi kalau bersuara keras dan bersuara ‘assalamua’alaikum’. Walaupun tidak seperti itu dan tidak ada belnya juga tidak masalah. Yang penting kalau ada tamu segera disambut dan diselesaikan kepentingannya. Supaya si tamu tidak usah muncul rasa ingin tahu yang berlebihan lalu mencoba mengamat-amati melalui jendela, dll yang tidak boleh dan tidak perlu dilakukan seorang tamu.
Interior rumah juga diusahakan supaya menunjukan bahwa rumah terbuka pada kebenaran. Seperti ada mushola, kamar tidur yang terpisah antara orang tua dan anak yang sudah dewasa, dan anak laki-laki dengan anak perempuan, hingga kamar mandi dan toiletnya. Kemudian, seluruh interior rumah harus diperhatikan aspek kesucian dan kebersihannya.
Termasuk di dalam rumah harus ada pembacaan dan pembelajaran Al Quran dan ajaran-ajaran agama Islam. Bagi ayahnya, ibunya dan anak-anaknya. Bagus pula kalau ada orang lain atau tetangga yang juga mempelajari agama Islam di rumah itu. Semua hal terkait dengannya harus dipersiapkan sebaik-baiknya sehingga rumah itu dimuliakan oleh Islam dan tidak dihinakannya.
Masih banyak hal-hal lain yang dapat menunjukan bahwa rumah terbuka terhadap kebenaran ajaran agama Islam. Intinya semakin terbuka pada kebenaran, tentu semakin baik bagi penghuninya. Sebaliknya semakin tertutup dari kebenaran, tentu semakin buruk dan merugikan bagi penghuninya. Wallahu’alamu bishawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: