HABIS GELAP TERBITLAH TERANG Ilaa hadratinaa wa syafii’inaa wa habiibinaa wa maulanaa, salaam alaika

Bulan April identik dengan bulan perayaan hari Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April. Perayaan ini dianggap sebagai momen munculnya emansipasi wanita. Mungkin sebagian dari kita pun familiar dengan slogan “habis gelap terbitlah terang”, sebuah slogan yang dianggap sebagai perjuangan persamaan antara perempuan dan laki-laki.
Sebagaimana sudah diketahui bahwa Kartini dianggap sebagai sosok yang mewakili gerakan feminisme di Indonesia. Perjuangan dan usahanya dalam rangka mendapatkan pendidikan yang setara dengan kaum laki-laki pada masanya dianggap mendobrak kebiasaan di masyarakat saat itu yang menganggap perempuan sebagai objek yang ada di rumah saja. Sehingga momen itu dianggap tepat untuk menggambarkan pergerakan perempuan pada masa ini.
Namun demikian, berbagai macam kasus Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) yang terjadi akhir-akhir ini mengingatkan kembali posisi perempuan dalam kehidupan sosial. Komnas Perempuan mencatat bahwa kekerasan terhadap perempuan meningkat terus dari tahun ke tahun. Banyaknya fakta KDRT inilah yang kemudian dimanfaatkan oleh gerakan feminisme. Gerakan feminisme adalah respon penentangan kaum perempuan di Barat terhadap diskriminasi dan intimidasi yang dialaminya. Menurut para propagandis ini, segala bentuk penindasan terhadap perempuan disebabkan karena perempuan ditempatkan pada posisi ‘nomor dua’. Karena itu dalam persepsi kaum feminisme, poligami dianggap sebagai bentuk penindasan terhadap perempuan. Menurut mereka jilbab juga merupakan bentuk pengekangan terhadap kebebasan perempuan. Perintah istri untuk taat kepada suami pun dianggap sebagai pendorong suami untuk berbuat sewenang-wenang dan memenjarakan perempuan dalam rumah tangga. Ajaran khitan bagi anak perempuan juga dianggap bentuk kekerasan fisik terhadap perempuan. Sebaliknya, bagi kaum feminis, seorang perempuan tidak wajib untuk taat kepada suaminya, perempuan tidak boleh dikekang untuk keluar rumah, suami harus membebaskan istrinya bekerja, dan seterusnya. Menurut anggapan mereka, hal itu semua adalah masalah KDRT dan merupakan masalah gender, yakni disebabkan adanya ketidakadilan gender.
Oleh karena itu, menurut mereka, untuk menghapuskan KDRT maka perempuan harus disejajarkan dengan laki-laki. Relasi suami istri dalam kehidupan rumah tangga haruslah seimbang, di mana istri memiliki kewenangan yang tidak harus bersandar kepada suami. Dari sinilah maka arah perjuangan penghapusan KDRT yang menurut mereka adalah untuk memperjuangkan hak-hak perempuan menuju gender equality. Namun yang sebenarnya terjadi adalah usaha para penganut Feminisme-Kapitalisme Liberal dalam perjuangan melepaskan diri dari keterikatan mereka kepada hukum Allah Swt dan RasulNya yaitu syariat Islam.
Bagaimana pandangan Islam tentang kedudukan laki-laki dan perempuan, apakah propaganda kaum feminisme ini jujur, bahwa kekerasan rumah tangga akibat tidak adanya “gender equality” atau ada hidden agenda? dan bagaimana seharusnya peran Negara?

KDRT adalah Kriminalitas, Bukan Bentuk Diskriminasi pada Perempuan
Kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) adalah bentuk kriminalitas (jarimah). Pengertian kriminalitas (jarimah) dalam Islam adalah tindakan melanggar peraturan yang telah ditetapkan oleh syariat Islam dan termasuk kategori kejahatan. Sementara kejahatan dalam Islam adalah perbuatan tercela (al-qobih) yang ditetapkan oleh hukum syara’, bukan yang lain. Manusia laki-laki dan perempuan sama di depan hukum syara’, tidak didiskriminasi. Dan tidak dilihat dari segi jenis kelamin tetapi semata-mata dilihat dari segi pelanggaran hukum syara’ saja, yaitu melakukan tindakan yang diharamkan dan atau meninggalkan kewajiban hukum syara’. Sehingga apa yang dianggap sebagai tindakan kejahatan terhadap perempuan harus distandarkan pada hukum syara’ semata dan proses penetapannya harus melalui peradilan.
Kepemimpinan suami atas istri dan keluarga adalah kepemimpinan yang bertanggung jawab, bukan kepemimpinan sebagai penguasa, karena kepemimpinannya adalah khusus, bukan kepemimpinan umum. Dengan demikian suami tidak bisa bertindak mengadili dan menjatuhkan sanksi pada anggota keluarga yang dianggap melanggar, tetapi sebatas tindakan mendidik yang wajar sebagaimana seorang ibu mencubit anaknya dalam rangka mendidik, bukan kekerasan yang bersifat kriminal. Oleh karena itu Islam melarang adanya kekerasan kriminal. Perlu digarisbawahi bahwa dalam konteks rumah tangga, suami memiliki kewajiban untuk mendidik istri dan anak-anaknya agar taat kepada Allah Swt. Hal ini sesuai firman Allah Swt: “Wahai orang yang beriman jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. At-Tahrim : 6).
Apabila kemudian dalam rumah tangga ada masalah, setelah dilakukan dengan cara-cara mendidik tidak bisa diselesaikan, maka Islam memberikan solusi jika terjadi perselisihan, yaitu musyawarah melalui kedua belah pihak (orang tua atau orang yang ditunjuk untuk mewakili) suami istri yang berselisih. Kalau itu pun masih tidak bisa maka bisa dibawa ke pengadilan.
Demikian pula masalah ketaatan istri terhadap suami, juga bukan merupakan KDRT. Dalam Islam, istri yang tidak taat kepada suami disebut nusyuz, misal tidak mau melayani suami padahal tidak ada uzur (sakit atau haid). Jika hal ini terjadi maka tidak bisa disalahkan jika suami melakukan tindakan mendidik sebagaimana seorang ibu mendidik anaknya, bukan dengan tindakan kriminal. Atau istri yang melalaikan tugasnya sebagai ibu rumah tangga karena disibukkan berbagai urusan di luar rumah, maka bila suami melarangnya ke luar rumah bukan berarti bentuk kekerasan terhadap perempuan. Dalam hal ini bukan berarti suami telah menganiaya istri melainkan justru untuk mendidik istri agar taat pada syariat.
Semua itu disebabkan perintah syara’. Istri wajib taat kepada suami selama suami tidak melanggar syara’. Rasulullah Saw menyatakan: “Apabila seorang wanita shalat lima waktu, puasa sebulan (Ramadhan), menjaga kemaluannya dan taat kepada suaminya, maka dikatakan kepadanya: Masuklah engkau ke dalam surga dari pintu mana saja yang engkau sukai.” (HR. Ahmad)
Namun di sisi lain, selain kewajiban taat pada suami, wanita boleh menuntut hak-haknya seperti nafkah, kasih sayang, perlakuan yang baik dan sebagainya. Seperti firman Allah Swt: “Dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf.” (QS. Al-Baqarah : 228).
Oleh karena itu kejahatan harus dilihat secara umum dari kaca mata hukum bukan dilihat apakah dia laki-laki atau perempuan. Kategori kejahatan bukan laki-laki atau perempuan tapi ada hudud, jinayat, ta’zir dan mukhalafat. Jadi kejahatan bukanlah perkara gender (jenis kelamin). Pasalnya, kejahatan bisa menimpa siapa saja, baik laki-laki maupun perempuan. Pelakunya juga bisa laki-laki dan bisa pula perempuan. Dengan demikian Islam pun menjatuhkan sanksi tanpa melihat apakah korbannya laki-laki atau perempuan. Tidak pula melihat apakah pelakunya laki-laki atau perempuan, tapi yang dilihat apakah dia melanggar hukum Allah Swt atau tidak. Dengan begitu kekerasan tidak ada kaitannya dengan penyetaraan hak laki-laki atau perempuan. Gagasan anti-KDRT dengan mengatasnamakan pembelaan terhadap hak-hak wanita pada akhirnya justru merupakan bias gender, politisasi hukum dan manipulasi yang sangat menyesatkan, propaganda yang tidak jujur dan memiliki hidden agenda.
Segala sesuatu yang terkait dengan perselisihan rumah tangga harus dipecahkan secara persuasif dengan mempertemukan perwakilan dari kedua belah keluarga suami dan keluarga istri, dan jika tidak dapat di pecahkan dengan cara ini, maka harus dipecahkan melalui peradilan yang menjadi domain Negara. Allah Swt berfirman, ”Dan jika kamu khawatirkan ada persengketaan antara keduanya, maka kirimlah seorang hakam dari keluarga laki-laki dan seorang hakam dari keluarga perempuan. Jika kedua orang hakam itu bermaksud mengadakan perbaikan, niscaya Allah memberi taufik kepada suami-isteri itu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.”(QS. An Nisa’: 35).

Perempuan dan Laki-laki Memiliki Kedudukan yang sama di hadapan Allah Swt
Syariat Islam telah menjelaskan apa yang menjadi hak istri atas suaminya dan hak suami atas istrinya. Allah Swt berfirman :“Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf.” (QS. Al-Baqarah : 228).
Artinya, hak yang dimiliki istri atas suaminya adalah sama sebagaimana hak suami atas istrinya. Oleh karena itu, Ibnu Abbas pernah bertutur demikian :“Sungguh, aku suka berhias untuk istriku, sebagaimana ia berhias untukku. Aku pun suka meminta agar ia memenuhi hakku yang wajib ia tunaikan untukku, sehingga akupun memenuhi haknya yang wajib aku tunaikan untuknya. Sebab Allah Swt telah berfirman , “Para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang makruf.”
Rasulullah Saw telah berpesan kepada kaum pria dalam urusan kaum wanita. Imam Muslim dalam Shahih-nya menuturkan riwayat yang bersumber dari Jabir, bahwa Rasulullah Saw pernah bersabda dalam khutbahnya pada saat haji Wada’sebagai berikut :“Hendaklah kalian bertaqwa kepada Allah dalam urusan kaum wanita, karena kalian telah mengambilnya sebagai amanat dari Allah Swt, dan kalian pun telah menjadikan kehormatan mereka halal dengan kalimat Allah. Kalian memiliki hak atas isrti-istri kalian agar mereka tidak memasukan ke tempat tidur kalian salah seorangpun yang kalian benci. Jika mereka melakukan tindakan demikian, pukullah mereka dengan pukulan yang tidak sampai membahayakan. Sebaliknya, mereka pun berhak untuk mendapatkan rezeki dan pakaian mereka dengan cara yang makruf.”
Demikianlah Islam mengatur kedudukan pria dan wanita berdasarkan hak dan kewajibannya masing-masing. Kedudukan pria dan wanita dihadapan Allah Swt adalah sama, hanya ketaqwaanlah yang dinilai oleh Allah Swt. Jelas sudah bagaimana kedudukan wanita dalam Islam. Ditempatkan dalam kedudukan sejajar dengan pria. Memiliki kewajiban yang sama dihadapan Allah Swt untuk berbuat kebaikan dan menolak kejahatan. Namun dalam menjalankan kewajiban tersebut Islam mengakomodasi keistimewaan pria dan wanita. Pria dan wanita diciptakan oleh Allah Swt dengan kondisi fisik, emosi dan psikologis yang berbeda. Pria diciptakan dengan kondisi fisik yang lebih kuat, dan lebih berpikir mengutamakan logika. Hal ini untuk mengakomodir tuntutan untuk memenuhi kebutuhan dan melindungi keluarganya. Sedangkan wanita diciptakan dengan kondisi fisik yang tak sekuat pria, namun dengan hati yang sangat lembut dan lebih penyayang. Naluri ini membentuk naluri keibuan yang menjadi ciri istimewa seorang wanita. Kombinasi ketegasan pria dan kelembutan serta sifat penyayang wanita menjadi suatu sifat yang saling melengkapi. Sebuah rumah tangga yang terdiri dari dua sifat utama tadi akan menjadi rumah tangga yang sempurna dan lengkap. Yang pria dituntut untuk bekerja keras mencari kebutuhan keluarga, memimpin dan melindungi mereka. Yang wanita dituntut memelihara, membina, mendidik anak di rumah tangganya yang menguras tenaga. Keduanya sama-sama berkorban. Inilah yang diminta oleh Islam.
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)…” (QS. An-nisa : 34)
Islam telah menempatkan pria menjadi pemimpin bagi wanita. Bukan karena wanita lebih rendah kedudukannya, namun karena Allah Swt memberi kelebihan tertentu kepada pria. Kelebihan fisik, kelebihan ketegasan namun juga diberi tanggung jawab yang lebih berat. Secara naluriah pun pria dibentuk menjadi pemimpin. Ketika ada sekelompok orang tidak saling mengenal, terjebak dalam sebuah kapal yang karam, maka prialah yang mendahulukan wanita untuk selamat. Ketika ada rumah yang kemasukan perampok, maka anak laki-lakilah yang melindungi anggota keluarga yang lain. Ini bukan akibat konstruksi sosial seperti yang didengungkan para feminis. Pria harus bergerak ketika ada kejadian seperti itu karena memang dilebihkan oleh Allah Swt, namun kelebihan itu harus pula mereka pertanggung jawabkan. Wallahu a’lamu bishawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: