RUMAH SEBAGAI ‘INVESTASI’ AKHIRAT

Ilaa hadraatinaa wa syafii’inaa wa habiibinaa wa maulaanaa, salaam ‘alaika

Pernah muncul pandangan bahwa rumah adalah sebuah investasi yang menguntungkan. Maksudnya, kalau seseorang menjual rumah pasti memperoleh untung sebab nilai dan harga ketika menjualnya lebih mahal dari nilai dan harga ketika membelinya. Hal ini karena nilai dan harga rumah selalu meningkat dari waktu ke waktu.
Pembangunan dan bisnis rumah pun melesat tajam. Pihak pemerintah aktif memberikan ‘akses’. Pihak developer tidak segan-segan membeli tanah yang lebar maupun yang sempit, membangun perumahan di atasnya dan menjualnya. Demikian juga pihak properti. Sedangkan pihak perbankan menawarkan kredit pemilikan rumah (KPR). Bisnis bahan bangunan juga berkembang pesat. Adapun masyarakat sering melakukan renovasi rumah. Ada yang renov total. Ada yang renov sebagian.
Model-model rumah pun bermunculan. Dulu ada rumah model Spanyol dan Italia. Ada juga model tradisional. Ada model kluster. Ada model minimalis. Ada model perkotaan. Ada model natural. Ada model ruko. Ada model rukan. Pokoknya, semua model bermunculan memenuhi hasrat masyarakat tentang rumah dan tempat tinggal.
Umat Islam tidak terlalu mempermasalahkan pandangan itu. Paling-paling mereka kurang berkenan dari sisi terlalu banyak dan sering hutang, atau adanya riba. Permasalahannya, banyak dalil yang memerintahkan mengurangi hutang dan melarang riba.
Selain itu, ada juga di antara umat Islam yang mencoba meraih peluang dari pandangan itu. Banyak yang bekerja di sektor perumahan. Pihak perbankan syariah menawarkan ‘KPR’ yang tidak menggunakan metode riba. Pihak developer Islami menawarkan perumahan yang lingkungannya Islami. Ada juga yang makelaran tanah dan rumah.
Tidak sedikit pula pihak rumah tangga Islam yang melakukan renovasi. Mereka berpandangan bahwa merenovasi menyebabkan rumah semakin nyaman. Selanjutnya, rumah yang nyaman semakin mempermudah penghuninya untuk bersyukur dan beribadah kepadaNYA. Tali pernikahan semakin erat. Hubungan dalam keluarga pun semakin harmonis. Orang tua lebih mudah mendidik anak. Adapun anak selalu taat kepada orang tua. Hubungan antar saudara juga semakin akrab.
Termasuk juga diharapkan semakin besar tanggung jawab istri terhadap rumah dan harta benda yang ada di rumah itu. Tidak hanya istri, namun suami dan anak-anak juga bertanggung jawab terhadap rumah dan harta benda milik keluarga yang ada di rumah. Rumah selalu dirawat, dan harta benda yang ada di rumah selalu dibersihkan dan ditata yang rapi.
Memang juga ada sisi negatif dari pandangan tentang rumah sebagai investasi. Salah satunya adalah alih lahan. Lahan pertanian berubah menjadi lahan perumahan, perkantoran, atau daerah/wilayah baru. Padahal lahan pertanian merupakan salah satu faktor penting untuk menjaga swasembada, keamanan dan ketahanan pangan.
Sisi negatif lainnya adalah kurangnya kesadaran masyarakat terhadap lingkungan. Ada yang membangun rumah/bangunan di bantaran sungai di lereng bukit terjal atau melanggar kawasan ‘hijau’ dan kawasan lainnya yang di situ dilarang ada pembangunan rumah.
Mungkin termasuk sisi negatif adalah semakin terbiasanya masyarakat dengan hutang. Mau membangun rumah, hutang. Mau merenovasi rumah, hutang. Mau memperbaiki rumah, hutang. Ada juga yang mengkritisi pandangan itu sebagai penyebab tingginya harga-harga.
Kadang-kadang juga muncul iri antar tetangga. Ada yang membangun dan merenovasi rumah, tetangganya iri. Ada yang membeli perabotan rumah tangga atau harta benda baru, tetangganya iri. Lebih kacau lagi kalau yang membangun dan merenovasi rumah, atau membeli perabotan dan harta benda sengaja untuk ‘pamer’ dan sombong. Lingkungan menjadi tidak nyaman, walaupun rumah dan bangunannya megah dan modern.

Pandangan Baru
Sekarang ini muncul pandangan baru. Rumah bukan investasi. Orang membeli rumah untuk semata-mata dijadikan tempat tinggal.
Mungkin, salah satu penyebab munculnya pandangan ini adalah mulai berkembangnya rumah susun (rusun) dan apartemen. Perlu diketahui, sepertinya rusun dan apartemen cepat atau lambat akan menjadi pola hunian. Ciri-ciri rusun dan apartemen yang dibangun bertingkat-tingkat sehingga tidak menghabiskan lahan tanah dinilai merupakan pilihan tepat untuk hunian masa sekarang dan yang akan datang. Apalagi rusun dan apartemen tidak didirikan dan dibangun di kawasan yang dilarang. Jadilah rusun dan apartemen mulai berkembang di mana-mana, khusunnya di kota-kota.
Di sisi lain, rusun dan apartemen tidak memerlukan perbaikan dan renovasi yang keterlaluan. Biasanya hanya renovasi interior. Kalau dilakukan renovasi eksterior tentu menyulitkan. Misalnya saja betapa sulitnya mengangkat pasir dan batu untuk renov itu, kalau rumahnya ada pada lantai 10. Lagi pula renov eksterior seperti itu dapat mengganggu kenyamanan tetangga rusun/apartemennya. Bahkan bisa membahayakan rusun dan apartemen itu.
Dari sini muncul pandangan baru bahwa rumah bukan investasi. Rumah bukan untuk diperjualbelikan. Apalagi, ada hunian di rusun dan apartemen yang tidak mudah diperjualbelikan. Hal itu karena pemilikannya hanya sebatas penggunaan tempat tinggal di rusun dan apartemen itu, sedangkan pemilikan lahan rusun/apartemen ada pada pemerintah atau pengembang. Orang yang menghuni rumah di situ hanya dapat memanfaatkannya sebagai tempat tinggal, tidak boleh memperjualbelikan. Jadi, rumah bukan untuk investasi.
Selain itu, hitung-hitungan jual-beli rumah juga berubah. Memang, kalau menjual rumah akan memperoleh laba, namun perlu diingat bahwa yang menjual harus membeli rumah baru lagi. Bagaimana kalau selisih nilai dan harganya tidak terlalu berbeda dengan rumah yang telah dijual? Atau nilai dan harga rumah baru lebih mahal? Kalau dipikir-pikir itu berarti sebenarnya mengalami rugi. Pada saat seperti itulah muncul pandangan bahwa rumah bukan investasi.
Apalagi hutang pembangunan rumah konon kabarnya juga menjadi salah satu pemicu krisis keuangan beberapa waktu lalu di Amerika dan Eropa. Konon kabarnya, waktu itu terlalu banyak yang hutang pembelian rumah dan apartemen padahal tidak memiliki kemampuan melunasi. Ditambah berbagai faktor lain yang memberatkan, jadilah lembaga-lembaga keuangan pada bertumbangan. Krisis pun menyebar ke seluruh Amerika dan Eropa.
Entah kapan, pandangan bahwa rumah tidak sebagai investasi, akan banyak diikuti. Kalangan pemerintah, pebisnis dan rakyat menyetujuinya. Lalu, bangunan yang menjulang tinggi sebagai rusun dan apartemen semakin mudah dijumpai, khususnya di perkotaan. Rumah-rumah pun nantinya mirip satu dengan yang lain, luasnya, bentuknya atau warnanya. Bisakah kita menyukainya?

Rumah: ‘Investasi’ Pahala di Akhirat
Bagi kita, umat Islam, tentunya tidak terlalu mempermasalahkan berbagai pandangan tentang rumah, selama pandangan tersebut tidak bertentangan dengan agama Islam. Yang penting di dunia dan di akhirat kelak tidak bertentangan dengan agama Islam. Yang penting selalu di bawah ridloNYA dan naunganNYA.
Lagi pula, umat Islam sudah berpengalaman dalam berbagai bentuk rumah. Berita masa lalu dalam Al Quran dan hadits sudah mengabarkan adanya berbagai bentuk rumah. Ada rumah seperti istana, ada rumah di gunung-gunung, ada rumah sederhana sebagaimana rumah Rasulullah Saw dan para istrinya atau ada rumah umat Islam saat ini yang sesuai karakter daerah masing-masing. Hal itu semua tidak masalah, selama mendukung rasa syukur kepadaNYA.
Yang penting rumah dapat dijadikan sarana ‘investasi’ pahala di akhirat dan bukan ‘investasi’ dosa. Sebagaimana masjid sebagai sarana ‘investasi’ akhirat. Demikian pula kantor, pasar, jalan, gunung, sungai, hutan, lapangan, dll. Termasuk kantor pemerintahan. Semuanya harus menjadi sarana untuk ‘investasi’ pahala di akhirat dan bukan ‘investasi’ dosa.
Dalam hal itu bagi suatu keluarga besar, rumah adalah salah satu sarana untuk menguatkan keimanan dan keislaman sehingga nanti seluruh keluarga besar dipertemukan di surga. Hal ini karena Allah SWT berfirman dalam surat Ath Thuur ayat 21: “Dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya”.
Sebagai contoh, rumah disediakan oleh seorang suami bagi istri dan anak-anaknya bukan karena sombong, pamer, atau mengikuti selera. Namun, dalam rangka ‘investasi’ pahala akhirat, suami menyediakan rumah mengikuti pengertian umum dari surat ath Thalaq ayat 6: “Tempatkanlah mereka (para isteri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka”. Kalau mampu, ditempatkan di rumah yang sesuai kemampuan itu. Adapun kalau tidak mampu, suami menyediakan rumah sederhana bagi rumah tangganya.
Contoh lain, rumah disiapkan sebagai hayatul khas/kehidupan khusus sebagaimana dalam ajaran agama Islam, termasuk sebagaimana yang bersumber dari firmanNYA dalam surat An Nuur ayat 27: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuninya, yang demikian itu lebih baik bagimu, agar kamu (selalu) ingat”. Jadi, apakah rumah itu besar atau kecil, mahal atau murah, tetaplah rumah itu ‘investasi’ pahala di akhirat sebab orang-orang yang di dalam rumah selalu melakukan kegiatan Islami tanpa terganggu dan mengganggu pihak-pihak yang tidak berkepentingan.
Adapun aktivitas Islami dalam rumah bisa jadi berupa pergaulan yang baik antara suami dengan istri, pengasuhan dan pendidikan kepada anak, ketaatan kepada suami dan orang tua, dan memenuhi berbagai kebutuhan pokok dan penting. Selain itu aktivitas Islami dalam rumah juga meliputi merawat rumah, memelihara dan menata harta benda yang ada di rumah. Demikian juga berbagai aktivitas peribadatan dilakukan di rumah. Sebagai contoh banyak berzikir dapat dilakukan di rumah: Rasulullah SAW bersabda: “Perumpamaan rumah yang disebut nama Allah di dalamnya dan rumah yang tidak disebut nama Allah di dalamnya, seperti perumpamaan orang hidup dan mati”.
Rumah dapat juga dijadikan sebagai tempat untuk berdakwah. Hal itu mengacu pada rumah Arqam bin Arqam. Sebagaimana diketahui, rumah Arqam ini digunakan sebagai pusat dakwah Rasulullah SAW untuk mengajarkan kepada para sahabat tentang wahyu Allah SWT yang telah turun.
Demikianlah, umat Islam punya pandangan yang menarik tentang rumah. Rumah adalah sarana untuk ‘investasi’ pahala di akhirat. Tidak menjadi masalah, apakah rumah itu mewah atau sederhana. Tidak menjadi masalah apakah rumah itu besar atau kecil. Rumah adalah sarana mencapai kebahagiaan di dunia dan di akhirat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: